• Goa Gajah Bali

    Thursday, August 16, 2012
    (http://kevnath.blogspot.com/)


    Pernahkah anda mengunjungi Goa Gajah? Goa Gajah merupakan salah satu situs peninggalan sejarah kehidupan agama Hindu di Bali yang mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu. Lalu, apa saja yang terdapat di sana? Melalui postingan ini, penulis akan mengulas informasi tentang Goa Gajah Bali yang didapatkan saat berkunjung ke sana pada 31 Desember 2011.


    Letak

    Goa Gajah secara administratif termasuk dalam wilayah Banjar atau Dusun Goa, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali.
    Goa Gajah secara administratif termasuk dalam wilayah Banjar atau Dusun Goa, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali.
              Secara astronomis, Goa Gajah terletak pada 8°31’39” LS dan 115°17’19” BT.
              Secara geografis, Goa Gajah terletak di tebing kiri Sungai Petanu dengan ketinggian 185 meter di atas permukaan air laut.
              Suhu udara di situs ini berkisar antara 25° - 30° C dengan curah hujan tiap tahun mencapai 3.500 mm.
              Pengunjung akan sampai di tempat pelataran melalui sisi selatan gua. Yang pertama kali dilewati adalah kolam petirtaan yang mengalirkan air melalui 6 buah arca pancuran. Bagian yang lebih dikenal sebagai Goa Gajah adalah sebuah Goa di sebelah utara petirtaan, dipahatkan dalam bagian tebing yang menjorok keluar. Gua ini masuk ke dalam sejauh 9 meter menuju arah utara tepat di bawah jalan antara Desa Teges dan Desa Bedulu yang membentang dari barat ke timur.
    Tugu Selamat Datang  (http://kevnath.blogspot.com/)

              Fungsi
    Dari hasil data penelitian, Goa Gajah merupakan tempat suci sebagai pusat kegiatan agama Hindu dan Buddha pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa dari abad X-XIV Masehi.
              Status situs Goa Gajah sekarang merupakan living monument yang berfungsi sebagai tempat kegiatan keagamaan (Pura) dan masyarakat menyebutnya dengan nama Pura Goa.
    http://kevnath.blogspot.com/

              Riwayat Penemuan

    Sejak tahun 1950 setelah Dinas Purbakala RI membuka kantor cabang Bali yang berkedudukan di Gianyar di bawah pimpinan J. C. Krijgsman, penelitian tentang Goa Gajah mendapatkan perhatian khusus yang dapat dibuktikan pada tahun 1951/1952 dengan diadakan penggalian di pelataran depan mulut gua.
    Peninggalan purbakala Goa Gajah baru dikenal oleh masyarakat pada tahun 1923 melalui laporan L. C. Heyting, seorang pejabat Hindia Belanda di Singaraja. Dalam laporan itu disebutkan terdapat sebuah gua dengan dinding muka penuh pahatan. Dari keterangan foto-fotonya dapat pula diketahui di pelataran depan gua terdapat beberapa arca lepas, yaitu: 6 tokoh arca wanita pada area pancuran, sebuah arca ganesha di dalam pelinggih di sebelah barat mulut gua, dan pada dinding pintu masuk dijumpai suatu tulisan singkat yang tidak dapat dibaca pada saat itu.
              Pada tahun 1931 Conrat Spies menemukan pola peninggalan yang cukup penting  di kompleks tukad pangkung berupa stupa bercabang tiga yang terpahat pada dinding batu yang telah runtuh dan tergeletak di dasar tukad pangkung.

    Sejak tahun 1950 setelah Dinas Purbakala RI membuka kantor cabang Bali yang berkedudukan di Gianyar di bawah pimpinan J. C. Krijgsman, penelitian tentang Goa Gajah mendapatkan perhatian khusus yang dapat dibuktikan pada tahun 1951/1952 dengan diadakan penggalian di pelataran depan mulut gua. Dari penggalian itu, ditemukan fondasi kuno berbentuk persegi panjang, dimana dinding muka goa sebagai salah satu sisi panjangnya. Pada tahun itu ditemukan pula retakan pada langit-langit goa sebagai akibat dari akar-akar pohon kamboja yang tumbuh diatasnya. Ditemukan dua pecahan batu, pecahan pertama merupakan bagian atas kepala raksasa di atas lubang kedua; lubang kedua merupakan bagian berukir dari tembok sebelah timur. Ditemukan juga sebuah pedang dari batu padas yang merupakan bagian dari arca raksasa di depan goa.
              Pada tahun 1953, penggalian di halaman depan gua dilanjutkan, tetapi tidak berlangsung lama dan menyeluruh karena pada kedalaman 50 cm ditemukan pasangan batu padas keras yang ternyata merupakan lantai dasar asli. Penelitian ini dilanjutkan hingga tahun 1954 dengan ditemukan tiga kolam dan fragmen-fragmen arca yang merupakan bagian penting dari kompleks petirtaan. Fragmen arca tersebut setelah direkonstruksi merupakan 6 buah arca pancuran. Pada akhir tahun 1954, arca tersebut disusun sedemikian rupa sehingga untuk setiap kolam petirtaan (kecuali kolam tengah) ditempatkan tiga buah arca laki-laki diapit oleh dua arca wanita. Penggalian dilanjutkan untuk mencari sumber mata air tersebut. Ternyata saluran itu terbuat dari batu dan ditemukan utuh dan terletak di dalam tanah tepat di belakang bangunan Candi Bentar Pura Goa Gajah.
    Goa Gajah (http://kevnath.blogspot.com/)
              Goa ini dipahatkan pada batu padas keras yang menjorok keluar sehauh 5,75 meter dari dinding batu tersebut, berukuran tinggi 6,75 meter dan lebar 8,6 meter. Permukaan gua berhiaskan motif daun-daunan, batu karang, raksasa, babi, dank era. Di tengah-tengah relief tersebut tedapat relief mulut goa dengan ukuran lebar 1 meter dan tinggi 2 meter. Di ambang mulut gua terdapat pahatan muka raksasa menakutkan dengan mata besar bulat melirik ke arah kanan, rambut dan alis terlihat kasar, hidung besar, bibir atas dengan sederetan gigi tepat berada di atas lubang goa. Pada dinding timur gua terdapat dua baris tulisan yang berbunyi Kumon dan baris bawah “Sahy(w)angsa”, menilik bentuk hurufnya diduga berasal dari abad ke-11.
    http://kevnath.blogspot.com/

            Peninggalan Arkeologi

    Secara keseluruhan, peninggalan arkeologi di situs ini terdiri dari empat kompleks, yaitu goa beserta benda cagar budaya di dalamnya berupa Arca Ganesha, Trilingga, dan Fragmen Arca, dan fragmen bangunan.

    Secara keseluruhan, peninggalan arkeologi di situs ini terdiri dari empat kompleks, yaitu goa beserta benda cagar budaya di dalamnya berupa Arca Ganesha, Trilingga, dan Fragmen Arca, dan fragmen bangunan.
              Pada petirtaan terdapat Arca Pancuran beserta kolam petirtaan, sedangkan pada lembah Tukad Pangkung terdapat relief Stupa bercabang tiga, relief paying bersusun tigabelas, dan Arca Buddha.
              Tinggalan arkeologi yang bercorak Siwaisme ditemukan dalam Goa berupa Trilingga, Ganesha, Arca Pancuran, Arca ganesha, serta petirtari. Berdasarkan studi ikonografis atas arcapancuran yang ada di komplek petirtari Goa Gajah menunjukan bahwa ada persamaan dengan Arca Pancuran di Candi Belahan, Jawa Timur yang diduga berasal dari abad ke 11 Masehi. Dengan demikian Arca Pancuran di Goa Gajah setidak-tidaknya berasal dari awal atau pertengahan abad ke 11 Masehi.
              Tinggalan arkeologi yang bersifat Buddhisme ditunjukkan oleh Arca Dyani Buddha Amitaba, reruntuhan stupa dengan yasti bercabang tiga, dan Arca Hariti. Arca Dyani Buddha Amitaba banyak menunjukkan kesamaan dengan Arca Dyani Buddha di Candi Borobudur, Jawa Tengah, yaitu dari pertengahan abad 9 Masehi.
              Berdasarkan penelitian situs Goa Gajah memiliki dua kelompok tinggalan purbakala yang berlainan sifat keagamaan dan periode, dapat diperkirakan bahwa situs ini sebelum kekuasaan Anak Wungsu sudah menjadi pusat keagamaan dan berlangsung terus menerus pada masa selanjutnya.
    ·         Dari beberapa prasasti di Bali, tidak satupun yang langsung menyebutkan nama Goa Gajah, namun Prasasti Songan Tambahan yang dikeluarkan Raja Marakata berangka tahun 1022 Masehi dan Prasasti Cempaga yang dikeluarkan Raja Sri Mahaguru berangka tahun 1324  M, keduanya menyebukan Er Gajah. Kemudian Prasasti Dawan (1053 M) dan Prasasti Pandak Badung (1071 M) menyebutkan tempat suci Antakunjarapadda (kunjara=gajah). Sedangkan dalam kitab Negarakertagama tahun 1365 M mencantumkan nama Badahulu dan Lwa Gajah, yaitu dua tempat di Bali yang termasuk kekuasaan Majapahit.
    ·         Berdasarkan studi perbandingan, stupa bercabang tiga Goa Gajah mempunyai persamaan pola hias dengan padmasana kepala prasasti Blanjong (Sanur) yang dikeluarkan Raja Kesari Warmadewa berangka tahun 917 M.
    ·         Jenis tulisan Kumon dan Sahy(w)angsa berdasarkan paleografi dan perbandingan dengan Arca Lingga Ganda di Pucak Penulisan, Kintamani, Bangli, diperkirakan berasal dari abad ke 11, karena Arca Lingga Ganda memakai angka di tahun 1074 M.
    ·         Arca Pancuran pada Petirtaan Goa Gajah menunjukkan persamaan dengan Arca Pancuran Candi Belahan Jawa Timur.
    Penulis Di Depan Tugu  (http://kevnath.blogspot.com/)

    No comments:

    Post a Comment

    If you have questions, responses, or requests, feel free to write it down. :)

  • There was an error in this gadget
     

    Copyright © 2011- Kevnath • Powered by BloggerKevnath-Miku 2.0 • Designed by Kevin Nathanael