• I'll Make Your Dream Come True

    Friday, May 23, 2014

                “Suatu hari nanti, aku pengen pergi ke London!” kata Rose.
                “Kenapa harus di sana?” tanyaku.
                “Masa kakak gak tau sih? Di sana kan ada Big Ben, Trafalgar Square, pokoknya banyak banget yang bagus lho, Kak. Aku lihat di internet!” katanya sambil menunjukkan tabletnya padaku. Ia benar-benar ingin sekali ke sana. Aku memaklumi perilakunya, karena adikku selalu berada di kamar karena penyakit yang dideritanya sejak kecil. Ia tidak boleh terlalu aktif dan selalu mendapat pengawasan khusus dari dokter.
                “Kamu suka sekali sama London, ya?” tanyaku sambil membelai rambutnya. Ia mengangguk. “Baiklah, kakak, akan bawa kamu pergi ke sana,” kataku dengan percaya diri.
                “Benar, Kak?” tanyanya? Aku tersenyum dan mengangguk kepadanya. Ia langsung memelukku.

                Keluar dari kamarnya, keringat dingin langsung mengalir padaku. Dari mana aku bisa mendapatkan uang pergi ke sana? Aku baru saja lulus kuliah dan aku tidak mungkin meminta uang dari orangtuaku, karena mereka selalu bekerja untuk menutupi biaya adikku. Aku menelepon Ryan, temanku, yang orangtuanya punya perusahaan mebel.
                “Halo, Ryan. Orangtuamu punya kerjaan, gak?” tanyaku.
                “Wah, gue gak tahu. Emangnya kenapa sih?” ujarnya.
                “Begini, aku udah janji sama adikku jalan-jalan ke London,” jawabku.
                “Gila lo! Tiketnya aja udah 15 jutaan, belum lagi jalan-jalannya!” katanya.
                “Makanya, aku minta tolong, ada kerjaan gak?” tanyaku.
                “Ya udah deh. Cuma bokap gue baru pulang seminggu nanti nih, gak masalah?” jawabnya.
                “Gak bisa kamu telepon aja?” tanyaku.
              “Mana bisa, lo tau kebiasaan bokap gue kalo udah ambil liburan. No handphone, kembali ke jaman purba,”

                Kuambil keputusan untuk mengambil pekerjaan part-time. Menjadi tukang parkir, menjadi pelayan restoran cepat saji, menjadi pemain band café, online shop, dan banyak pekerjaan yang kuambil untuk menambah tabunganku. Akan tetapi, masih belum cukup juga. Berbagai perlombaan juga kuikuti. Mulai dari kompetisi band, lomba abang-none, lomba makan kerupuk, dan sebagainya. Seluruh penghasilan ini ditambah tabunganku, masih terbilang kurang. Akan tetapi, aku tidak mau menyerah. Aku tidak ingin adikku menangis karena janji yang kami buat kubatalkan begitu saja.

                Seminggu kemudian, bapaknya Ryan setuju untuk merekrutku. Gaji yang ditawarkan sangat besar, lumayan untuk menutup biayaku. Bekerja di perusahaannya memang sangat berat, tekanan dan tanggung jawab yang diberikan lebih tinggi daripada pekerjaan yang pernah kujalani selama ini. Banyak ejekan dari klienku yang diarahkan padaku. Hal ini membuatku stres dan hampir menyerah. Tetapi berkat foto adikku, aku teringat akan janji itu dan bekerja dengan sepenuh hati.
                Sudah sekitar enam bulan sejak aku bekerja di perusahaan itu, tetapi masih belum mampu menutup seluruh biayaku. Aku tidak ingin membuat adikku menunggu lebih lama lagi.
                “Bro, kenapa lu gak pinjam duit aja?” kata Ryan.
                Aku menggeleng. “Gak ada gregetnya. Lagian juga kalau aku nggak bisa kembaliin duitnya, nanti jadi repot,” kataku.
                Aku menemui adikku. Di dalam pikiranku mulai timbul lagi untuk membatalkan janjiku. Adikku sangat senang dengan kedatanganku.
    “Wah, kakak datang! Yeeey!” katanya. Melihat semangatnya, aku tidak sampai hati untuk mengatakannya. “Kita jadi ke London, kan?” tanyanya.
    “Tentu saja,” jawabku. Adikku benar-benar senang.
    “Nak, ayah pingin bicara sama kamu,” kata ayahku. Aku mengikutinya ke ruang tamu. “Rose cerita kalau kamu akan mengajaknya ke London. Itu benar?” tanyanya. Aku mengangguk. “Udah cukup duitnya?” tanya ayahku lagi.
    “Belum. Aku udah kerja banyak selama enam bulan ini, dan masih kurang buat ke London,” jawabku.
    “Ayah juga udah kerja, ini uang buat kamu. Terima kasih kamu sudah mau menyenangkan Rose,” kata ayahku sambil menyerahkan sebuah amplop.
    “Ah, gak usah,” kataku sedikit menolak.
    “Kamu tidak boleh sombong. Ayah juga ingin membahagiakan Rose, tetapi inilah yang bisa ayah lakukan sejauh ini,” kata ayahku. Aku memeluknya sambil berterima kasih kepadanya.


    “London, London, Londooonn,” kata Rose. Kata-kata itu yang selalu diucapkannya sejak dari bandara Soekarno-Hatta. Ia sangat senang bahwa mimpinya sudah berhasil kukabulkan. Setelah mendarat di Bandara Heathrow, Rose tidak sabar untuk segera pergi berjalan-jalan. Setelah check-in dan menaruh bawaan kami, kubawa ia berjalan-jalan ke berbagai tempat. Kami berfoto-foto di Big Ben, berjalan-jalan di Trafalgar Square, menikmati indahnya bunga di Queen Mary’s Garden dan mengunjungi Buckingham Palace. Tujuan terakhir kami untuk hari ini adalah London Eye, sebuah bianglala raksasa yang terletak di Sungai Thames.
    “Rose, lihat, kita bisa London dari sini, lho!” seruku.
    “Wah, benar juga! Bagus banget yah, Kak,” ujar Rose. Ia menaruh kepalanya di lenganku. “Kak, terima kasih ya, udah bikin impian Rose jadi kenyataan,” katanya.
    Aku tersenyum. Akhirnya Rose tertidur. Wajahnya menunjukkan senyum kebahagiaan. Aku juga bahagia dan aku tidak sabar untuk melanjutkan petualangan kami di London besok.

    No comments:

    Post a Comment

    If you have questions, responses, or requests, feel free to write it down. :)

  • There was an error in this gadget
     

    Copyright © 2011- Kevnath • Powered by BloggerKevnath-Miku 2.0 • Designed by Kevin Nathanael