• Mengejar Impian

    Tuesday, May 20, 2014
                Siapa yang tidak tahu tentang Manchester United, sebuah klub tersukses se-antero Inggris? Klub ini berhasil meraih 20 trofi Liga Inggris, 3 trofi Liga Champions, dan terkenal karena mental juara para pemainnya. Semua pemain sepakbola pasti ingin menjadi bagian dari klub ini, sama seperti aku. Mimpi itu memang seakan mustahil, tapi mimpiku untuk menjadi pemain Manchester United tidak pernah padam.
    Sepak bola menjadi kegiatan rutinku bersama anak-anak tetangga. Setiap sore setelah kami membantu orangtua masing-masing, kami pasti bermain sepak bola di lapangan kampung kami. Aku senang bermain bersama mereka. Ada Bobby yang akurasinya bagus, Handoyo yang tangkapannya jago, dan Jaka yang lihai mengolah bola. Teman-temanku bilang bahwa aku memiliki ketepatan umpan yang bagus, tetapi aku tidak merasa seperti itu.
    Pak RT yang setiap hari menonton kami bermain, akhirnya mendirikan klub kecil di kampung kami. Walau klub ini hanya klub amatir, semua anak senang, karena impian mereka menjadi pesepakbola profesional bisa terwujud. Latihan yang diberikan oleh Pak Hadi, pelatih kami, memang berat, tetapi semua anggota menekuni latihan dengan sungguh-sungguh.
    Pak RT memutuskan untuk menyertakan kami dalam seleksi kejuaraan nasional. Tim kami termasuk dalam 8 klub yang akan memperebutkan satu tiket nasional. “Oke, semuanya ayo ke sini!” seru Pak Hadi. “Bapak akan mengumumkan pemain yang akan bertanding hari Minggu nanti.” Aku menjadi sangat gugup. “Oke, Bapak akan panggil. Handoyo, Lukas, Asep, Ari, Gabriel, Jaka, Rudy, Wido, Yusuf, Bobby, dan Firman. Buat yang belum dipanggil, tetap semangat ya! Jangan lupa datang hari Minggu nanti!” kata Pak Hadi.
    Bobby mengacungkan tangannya. “Pak, kenapa Ruben tidak main? Padahal dia bagus kok, Pak,” katanya.
    “Maaf, Bapak rasa Ruben belum mampu bermain baik, jadi untuk kali ini Bapak tidak memainkannya,” jawab Pak Hadi.
    Aku shock. Teman-temanku sedikit memprotes keputusan Pak Hadi, tetapi kusuruh mereka diam saja. Mungkin memang aku belum baik. Ini pertanda aku harus berlatih lebih giat lagi.
    Hari demi hari, aku terus berlatih dengan sungguh-sungguh. Aku berlari mengitari kampung setiap pagi. Semua latihan kulahap habis, bahkan sampai ibuku khawatir dengan tindakanku yang menurutnya sangat berlebihan. Tetapi, asalkan aku dapat bermain di pertandingan berikutnya, itu tidak masalah buatku.
    Akan tetapi, namaku kembali tidak ada di daftar pemain pada pertandingan kedua. Teman-temanku memprotes keras keputusan Pak Hadi, sampai hampir terjadi perkelahian antara Pak Hadi dan Handoyo. Kulerai mereka, dan kukatakan aku tetap mendukung keputusan pelatih
    Dalam perjalanan pulang, teman-temanku memberikanku semangat untuk terus berlatih. Aku merasa sedikit lebih baik dengan dukungan mereka. Saat aku tiba di rumah, aku langsung mengunci diri di kamar, mengabaikan orangtuaku yang sedang duduk di ruang tamu. Aku shock, sedih, putus asa. Mungkin Tuhan tidak mengizinkanku untuk menjadi pemain sepak bola. Timbul pikiran untuk mundur dari sepak bola.
    “Nak, kamu gagal lagi?” tanya ibuku sambil mengetuk pintu kamarku. Aku tidak menjawab pertanyaannya.
    “Dengarkan ayah. Ayah mendukungmu untuk memilih apapun yang kamu senangi, asalkan itu baik bagimu. Tapi, ayah sangat membenci dengan kata menyerah. Tidak dimainkan dalam dua pertandingan saja sudah membuatmu begini, bagaimana bisa menjadi pemain United?” katanya. Aku terhenyak. Aku lupa dengan impianku untuk menjadi pemain Manchester United dan bermain di tanah Inggris. Jika James Wilson yang berusia 2 tahun lebih tua dariku bisa sudah mencicipi debutnya di sana, mengapa aku tidak bisa? Kubuka pintu kamarku dan tampaklah dua orang yang selalu mendukungku. “Kami yakin, kau bisa bermain di pertandingan berikutnya,” kata ibuku sambil memelukku.
    Tiga hari setelah pertandingan, aku dikejutkan dengan kedatangan Pak Hadi ke rumahku. “Ruben, bapak minta maaf. Sebenarnya, kamu lebih berkualitas daripada si Rudy. Tapi bapak tidak sanggup untuk menolak uang yang diberikan oleh orangtua Rudy, Bapak benar-benar membutuhkan uang itu. Uang itu sudah bapak kembalikan, bapak benar-benar merasa bersalah sama kamu. Sebagai permintaan maaf, bapak akan memainkan kamu di pertandingan berikutnya,” katanya.
    Pertandingan ketiga ini merupakan pertandingan final, yang mempertemukan kami dengan tim terkuat yang juga merupakan juara bertahan, Warrior FC. Pertandingan berjalan sangat ketat. Kedudukan masih 0-0 pada menit ke-80. Serangan yang dibangun oleh Jaka, Bobby, dan aku masih belum mampu menembus pertahanan mereka. Serangan balik mereka bahkan membahayakan kami. Untungnya, Handoyo berhasil mengamankan bola. Handoyo memberikan bola kepada Asep, yang langsung dibawanya maju ke depan. Ia mengoperkannya kepadaku, lalu kuberikan long pass kepada Jaka yang bebas. Dengan gocekannya, ia berhasil mengelabui dua orang pemain lawan. Jaka kembali memberikanku bola. Kukelabui lawan dengan teknik flick andalanku, dan langsung kuoper kepada Bobby. Sayangnya, tembakannya masih mengenai tiang.
    Memasuki menit ke-88, kedua tim menjalankan serangan secara bergantian. Tiga orang pemain lawan mengawalku dengan ketat, karena aku adalah otak serangan tim kami. Taktik mereka mampu menghentikan pola serangan tim kami. Aku harus segera mendapatkan bolanya. Aku berlari ke daerah kosong, dan mereka semua mengikutiku. Kuberikan sebuah kode pada Wido yang sedang menguasai bola, dan ia paham. Dengan cepat ia mengoper bola pada Jaka, yang langsung diteruskan kepadaku. Pemain lawan terkecoh, mereka mengira Jaka akan membawa bolanya maju sendirian. Aku berhasil lolos dari kawalan. Kuterima bola itu dan kuberikan pada Bobby. Bek lawan terakhir segera menerjang Bobby, akan tetapi, ia memberikan bola itu kepadaku dan aku langsung menembaknya. Gol! Tim kami berhasil menjadi pemenang di menit-menit terakhir dan kami berhasil menyabet tiket nasional.
                Perjalanan kami di kejuaraan nasional juga terbilang tak mudah. Lawan-lawan yang kami hadapi benar-benar sangat kuat. Kami beruntung mendapatkan tiket semi-final setelah merebut posisi kedua dalam penyisihan grup setelah menang agregat. Pada saat pertandingan semi-final, kami bahkan harus menjalani perpanjangan waktu melawan perwakilan dari Papua. Pertandingan keras itu menyebabkan Jaka cedera sehingga ia tidak bisa bermain di final.
                “Jangan mau kalah! Walau tidak ada Jaka, kita harus bisa menampilkan penampilan terbaik kita! Sepak bola adalah permainan tim! Kita harus menangkan pertandingan final ini!” seruku menyemangati tim. Semangat mereka kembali berkobar. Pak Hadi tersenyum kepadaku.
                Tim lawan sangat mendominasi pertandingan. Tim kami tidak dibiarkan untuk menguasai bola sekalipun. Aku pun diberi kawalan yang ketat. Tim lawan berhasil mencetak sebuah gol di babak pertama. Babak pertama usai sudah. Teman-temanku sedikit kecewa dengan performa mereka. Aku dan Pak Hadi kembali menyalakan semangat mereka.
                Babak kedua, permainan kami mulai terlihat. Tim lawan kesulitan mengantisipasi umpan-umpan pendek kami. Akan tetapi, setiap tembakan dapat dimentahkan oleh kiper lawan dengan mudah.
                Memasuki menit ke 89, Firman menembakkan sebuah tendangan keras yang tidak mampu ditangkap sempurna oleh kiper lawan. Yusuf yang tidak terkawal segera menembakkan bolanya. Akan tetapi, kiper lawan bereaksi cepat sehingga bola memantul kepadaku. Dua orang bek lawan segera menutup pergerakanku. Kuoperkan bola kepada Wido yang berada di belakangku. Aku segera menerobos pertahanan mereka dan Wido langsung memberikan sebuah umpan akurat. Aku berhasil mencetak sebuah gol penyeimbang kedudukan.
                Wasit memberikan waktu tambahan 3 menit. Pertandingan semakin panas dan keras. Tim kami berhasil mendominasi permainan dan tim lawan cenderung bertahan total. Dua tembakan yang dilepaskan olehku masih belum mengenai sasaran. Bobby menembak, akan tetapi tembakannya mengenai pemain lawan sehingga menjadi corner kick. Yusuf, yang menjadi eksekutornya, memberikan bola kepada Bobby. Bobby tidak mampu menyundulnya. Kusambut umpan Yusuf dengan tendangan voli yang tidak mampu dihalau oleh kiper lawan. Skor berubah menjadi 2-1 untuk tim kami. Peluit panjang berbunyi. Gelombang kegembiraan meledak pada tim kami. Aku diangkat dan dilemparkan ke udara. Kami sangat bahagia dengan keberhasilan ini.
                Aku terpilih menjadi pemain terbaik. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Orangtuaku yang menyaksikanku di tribun penonton tersenyum kepadaku. Aku senang aku bisa membuat mereka bangga kepadaku.
                Besoknya, aku dikejutkan oleh scout dari Manchester United yang datang ke rumahku. Mereka menawariku kontrak untuk masuk ke akademi Manchester United di Inggris. Mereka tertarik dengan bakatku selama bermain di kejuaraan nasional. Aku memutuskan untuk bergabung bersama mereka.
    Impianku untuk bermain di Manchester United sudah terwujud, meskipun aku masih bermain di tim U-17. Namun, aku harus terus mengembangkan bakatku sehingga aku bisa masuk ke tim utama dan bermain bersama pemain-pemain mereka yang hebat, seperti Wayne Rooney atau Juan Mata.


    No comments:

    Post a Comment

    If you have questions, responses, or requests, feel free to write it down. :)

  • There was an error in this gadget
     

    Copyright © 2011- Kevnath • Powered by BloggerKevnath-Miku 2.0 • Designed by Kevin Nathanael